Postingan

DEMOKRASI AJARAN YAHUDI DAN NASRANI YANG DIIKUTI

  DEMOKRASI AJARAN YAHUDI DAN   NASRANI YANG DIIKUTI ‘Adi bin Hatim menemui Rasulullah, dia baru saja masuk Islam, di lehernya melingkar kalung yang bandulnya berbentuk salib yang terbuat dari perak, dalam riwayat lain disebutkan dari emas. Nabi menegurnya: يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ Wahai ‘Adi campakkan berhala itu dari lehermu. Kemudian Nabi membacakan surah al-Bara’ah ayat 31: اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ Orang-orang Yahudi dan Nashrani itu menjadikan rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (at-Taubah: 31) ‘Adi bin Hatim berkata: إنهم لم يعبدوهم Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak menyembah rahib dan pendeta mereka Rasul kemudian menjawab:   بلى، إنهم حرموا عليهم الحلال، وأحلوا   لهم الحرام، فاتبعوهم، فذلك عبادتهم إياهم Benar, akan tetapi jika rahib dan pendeta itu mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, mereka mengikutinya. Itulah bentuk ibadah mereka...

SOLUSI ISLAM ATAS PROBLEM PERBURUHAN

  SOLUSI ISLAM ATAS PROBLEM PERBURUHAN Wahyudi Ibnu Yusuf Senin 5 Oktober 2020, setelah melalui rapat paripurna, akhirnya RUU Cipta Kerja atau Omnibus law disahkan menjadi undang-undang. UU yang sejak awal menimbulkan pro-kontra akhirnya menuai penolakan dari berbagai kalangan termasuk buruh dan mahasiswa. Bukan kali ini saja problem perburuhan ini   terjadi, dalam sistem kapitalisme   buruh memang seolah dianggap kelas kedua yang pantas diperas keringatnya, wajar jika setiap may day atau hari buruh internasional selalu terjadi demo buruh di seluruh dunia. Ini menunjukkan bahwa problem perburuhan di dunia adalah problem permanen yang seolah tak pernah bisa diurai. Permasalahan mendasar dari problem perburuhan adalah perselingkuhan antara sistem demokrasi dan kapitalisme atau antara pemilik modal dengan para politisi. Sistem demokrasi-liberal menjadikan manusia sebagai pembuat hukum, penentu halal-haram dan mengebiri hak Tuhan. Padahal watak dasar manusia adalah ...

Takziyah Ustadz M. Rifa'i

 *Ustadz Muhammad Rifai, Guru Terjemah al Quran pejuang Syariah dan Khilafah itu telah pergi* Pertama mengenal beliau di masjid ar Ridho (kampung Arab), Antasan Kecil Barat Banjarmasin. Al faqiir dan beberapa jama'ah rutin belajar terjemah al Quran per kata. Saya namakan metode al Baghdady, karena beliau saat studi di Australia pernah belajar metode ini dengan Syaikh Abdurrahman al Baghdady. Di pengantar buku yang sedang al faqiir susun "Metode Praktis  terjemah al Quran", al faqiir rencanakan beliau memberikan kata pengantarnya. Beliau adalah seorang da'i yang unik. Ceramah dan khutbahnya khas, dengan ilustari yang unik dan kocak. Beliau senantiasa hadir di forum dakwah bersama anak2 muda (pelajar dan mahasiswa), padahal usia beliau sudah syaikh (sepuh). Hampir setiap forum diskusi beliau selalu berpartisipasi dengan memberi tanggapan atau pertanyaan serta solusi yang konstruktif. Beliau juga aktif menyebarkan majalah dan buletin dakwah, khususnya di lingkungan kanto...

SIAPAKAH ULAMA SEJATI, SIAPAKAH ULAMA SU'?

 SIAPAKAH ULAMA SEJATI DAN ULAMA SU’? Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:[1] العلماء ثلاثة: عالم بالله عالم بأمر الله، وعالم بالله ليس بعالم بأمر الله، وعالم بأمر الله ليس بعالم بالله. فالعالم بالله وبأمر الله: الذي يخشى الله ويعلم الحدود والفرائض. والعالم بالله ليس بعالم بأمر الله: الذي يخشى الله ولا يعلم الحدود ولا الفرائض. والعالم بأمر الله ليس بعالم بالله: الذي يعلم الحدود والفرائض، ولا يخشى الله عز وجل. Ulama ada tiga jenis: 1. Ulama yang ‘aalim terhadap Allah dan ‘aalim dengan perintah Allah. Ulama ini takut pada Allah sekaligus mengetahui hudud (batasan) dan kefardhuan dari Allah. Ta’liq: Ulama inilah yang sebenar-benarnya ulama. Ulama yang ma’rifat pada Allah, karena makrifatnya ia lalu takut pada Allah, karena takut pada Allah maka ia taat pada Allah. Ia pun tahu batasannya kArena juga faqih pada syariat Allah. 2. ‘Aalim terhadap Allah, namun tidak ‘aalim dengan perintah Allah. Ulama ini takut pada Allah namun tidak mengetahui hudud dan kefardhuan dari Allah. Ta’liq: Ulama jen...

BAHAYA MEMUSUHI DAN MENYAKITI ULAMA

 BAHAYA MEMUSUHI DAN MENYAKITI ULAMA Buletin Kaffah, No. 159 (30 Muharram 1442 H/18 September 2020) Ulama adalah sosok yang Allah SWT muliakan. Sudah sepantasnya kaum Muslim juga memuliakan ulama. Melindungi dan menjaga mereka. Tidak memperolok-olok apalagi menyakiti mereka.  Sayang, yang terjadi di Tanah Air, untuk kesekian kali terjadi serangan terhadap ulama dan tokoh Islam. Bukan saja diolok-olok. Bahkan nyawa mereka sampai terancam. Sebagian dari mereka ada yang dianiaya di rumah, di masjid, bahkan kini di tempat terbuka di tengah panggung dakwah. Sebagian luka-luka. Sebagian lagi bahkan dianiaya hingga wafat. Keadaan ini menggambarkan bahwa para ulama dan tokoh Islam belum bebas dari ancaman. Kemuliaan Ulama Maraknya ancaman terhadap para ulama dan tokoh Islam adalah sebuah ironi. Pasalnya, kita hidup di negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Setiap hari kita juga mendengar semakin banyak orang berani mengolok-olok ulama dan tokoh-tokoh Islam. Pelecehan tersebut terutama d...

HUKUM HORMAT BENDERA

 *HUKUM HORMAT BENDERA* تحية العلم ليست تقديسا بل هي الاحترام فقط و هي جائزة Hormat bendera bukanlah bentuk pensucian. Tetapi ia hanyalah bentuk ihtirom (memuliakan) saja. Dan hukumnya BOLEH (Nasyrah 8 Februari 1969) Catatan WIY, 16 09 2020

KAIFA ANTUM?

 *KAIFA ANTUM?MAKRUF DITUDUH MUNGKAR, MUNGKAR DIANGGAP MAKRUF* Suatu hari Nabi Saw memberi pengajaran dengan metode diskusi dengan para sahabat. Beliau membuka diskusi dengan bertanya. «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا طَغَى نِسَاؤُكُمْ، وَفَسَقَ شَبَابُكُمْ، وَتَرَكْتُمْ جِهَادَكُمْ؟» Bagaimana kalian, ketika para perempuan kalian berbuat melampaui batas, para pemuda kalian berbuat fasik dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah? Para sahabat dengan penuh keheranan, bertanya.  ، وَإِنَّ ذَلِكَ لَكَائِنٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ Apahal itu benar-benar akan terjadi wahai utusan Allah?. Para sahabat bukan tak percaya dengan khabar dari Rasulullah yang disampaikan dengan uslub bertanya tersebut. Namun mereka heran, mereka tak menyangka, karena mereka hidup di zaman dimana para wanitanya menutup aurat dengan rapat, malu bertemu laki-laki, dan menjaga akhlaknya. Para pemudanya begitu cinta dengan ilmu dan amal, termasuk jihad di jalan Allah. Rasullullah yang mendapat pertanyaan balik dari saha...